Bagikan Artikel ini
SobatASK - Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Kamu Gak Sendirian!

6 Langkah Ramah Trans

Sadar atau enggak disadari, teman-teman trans telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Namun, seringkali kita menjadikan mereka bahan tertawaan atau berasumsi bahwa mereka pasti cuma kerja di salon atau Taman Lawang. Padahal, belum tentu begitu juga kan? Trans itu manusia juga, sama seperti orang dengan identitas gender berbeda. Mereka punya kehidupan dan latar belakang yang beragam banget, sama seperti kamu.

SobatASK punya beberapa tips biar kamu lebih ramah trans. Baca terus!

 

1. Hindari Penggunaaan Sapaan “Mas” dan “Mbak” Sebelum Tahu Identitas Gender Mereka

Trans itu luas dan beragam banget. Misalnya, ada seorang waria. Walau dia lahir dengan alat kelamin laki-laki (penis), bisa jadi dia lebih merasa bahwa dia adalah seorang perempuan. Maka, enggak pas dong kalau dia dipanggil ‘Mas’? Kan dia lebih nyaman menjadi perempuan.

Karena itu, hati-hati sebelum menyapa mereka dengan sebutan “Mas”, “Mbak”, “Ibu”, “Pak”, dan sebagainya. Tanya dulu, mereka maunya dipanggil apa. Atau kalau mau main aman, panggil “Kak” atau “Dik” aja yang netral.

2. Tidak Menggunakan Kata “Banci” atau “Bencong”

Jangan gunakan kedua istilah yang biasanya berkonotasi menghina ini. Enggak enak tahu, diejek dan dikucilkan karena identitasmu.

3. Jangan Langsung Mengira Dia Sedang “Bingung” dengan Identitasnya

Enggak semua teman-teman trans sedang bingung dia mau “jadi laki-laki” atau “jadi perempuan.” Enggak semua trans juga terpaksa berdandan seperti itu karena tuntutan ekonomi, walau memang ada juga yang begitu. Beberapa trans memang nyaman dengan identitasnya kok.

4. Tidak Berasumsi Semua Perempuan Memiliki Vagina dan Semua Laki-Laki Memiliki Penis

Hanya karena seseorang terlahir dengan alat kelamin perempuan (vagina), tidak berarti dia lantas tumbuh dewasa dan merasa dirinya seorang perempuan. Sama halnya dengan seseorang yang terlahir dengan alat kelamin laki-laki (penis).

Identitas seseorang enggak hitam putih kayak gitu. Manusia memang seberagam itu.

5. Menerima Bahwa Ada Lebih Dari Dua Gender

Ini ada hubungannya dengan poin keempat. Selama ini, mungkin kita mengira bahwa cuma ada dua jenis gender saja, yakni laki-laki dan perempuan. Padahal, banyak budaya dan tradisi, termasuk budaya Indonesia yang mengenal lebih dari dua gender.

Masyarakat tradisional Bugis di Sulawesi Selatan, misalnya, mengenal lima jenis gender: bura’ne (laki-laki), makunrai (perempuan), calabai (waria), calalai (tomboi), dan bissu (pemuka agama yang memiliki sifat laki-laki maupun perempuan).

6. Jadilah Pendengar yang Baik

Pada akhirnya, jadi trans itu enggak gampang. Ada banyak stigma dan diskriminasi yang harus mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kamu jadi pendengar yang baik, ketimbang langsung menghakimi, kamu bisa ngebantu orang lain dan berbuat baik (syukur-syukur dapat pahala). Mungkin, kamu juga bisa belajar banyak tentang komunitas dan identitas gender yang enggak kamu tahu.

 

Percaya deh, mendengarkan dan belajar itu lebih menyenangkan daripada membenci dan menghakimi 🙂

 

 

Sumber:
historia.id/budaya/toleransi-gender-di-masyarakat-sulawesi-selatan
lgbtrc.usc.edu/allies/transgender/tips/
itspronouncedmetrosexual.com/2012/04/list-of-ways-to-make-world-trans-friendl/

 

Sumber foto:
everydayfeminism.com

Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Artikel SobatASK Lainnya

Jelajahi berbagai informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi remaja dari sumber yang terpercaya.

Kamu Gak Sendirian!
Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.

Keranjang
  • Tidak ada produk di keranjang.