Bagikan Artikel ini
SobatASK - Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Kamu Gak Sendirian!

6 Langkah Kalau Kamu Jadi Korban Bullying

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”DENGAR”]

Sudah enggak ada keraguan lagi kalau kamu jadi korban bullying adalah masalah serius yang dihadapi banyak anak muda Indonesia. Menurut riset yang dilakukan Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) pada 2015, sekitar 84% anak muda di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut jauh di atas angka rata-rata di Asia yang ada di kisaran 70%.

Lalu, apa yang harus dilakukan kalau kamu jadi korban bullying? Setelah berkaca dari pengalaman mimin sendiri dan membaca-baca dari beberapa sumber, kami punya beberapa tips untuk kamu yang menjadi korban bullying.

 

Ingat: ini bukan salahmu.

Banyak yang bakal bilang padamu bahwa kamu di-bully karena kamu terlalu pendiam, kamu terlalu “aneh”, kamu anak emas guru, atau segudang alasan lainnya. Namun, menurut kami, bullying tidak bisa dan tidak pernah bisa dibenarkan. Enggak peduli apa pun alasannya–bullying tetap salah dan tidak boleh ditoleransi.

Jadi, tips pertama kami sangat sederhana: jangan berkecil hati. Ketahuilah bahwa siapa saja berhak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus diganggu atau dikucilkan oleh orang lain. Kalau kamu memang pendiam dan disayang guru, apakah kamu harus mendadak jadi cerewet dan melawan guru? Enggak juga, kan?

Selama kamu nyaman dengan dirimu sendiri, pertahankan dirimu.

 

Jangan biarkan bullying merusak prestasi dan hidupmu.

Mimin termasuk anak yang pernah di-bully karena selalu menolak memberi contekan. Saat itu, mimin dituduh anak kesayangan guru dan sok pintar–walaupun pada akhirnya, nilai ujian mimin biasa-biasa saja. Mudah sekali bagi mimin untuk mengakhiri bullying itu dengan memberi contekan pada orang yang mem-bully. Hanya saja, saat itu mimin menolak.

Ini cuma soal contek-menyontek. Bagaimana jika kamu di-bully karena kamu tidak mau ikut-ikutan dalam kegiatan yang berbahaya? Bagaimana jika kamu dijauhi karena kamu menolak untuk turut serta dalam kegiatan yang bisa mengganggu pembelajaranmu di sekolah? Apakah kamu bakal membolos sekolah hanya karena kamu sering di-bully, atau mengakhiri cita-citamu hanya karena menurut orang lain, cita-cita itu enggak keren?

Sekali lagi, kamu berhak untuk menjadi dirimu sendiri. Jangan berkompromi hanya karena tekanan dari orang lain.

 

Pertimbangkan apakah situasinya oke untuk melawan.

Ada banyak opini soal lawan-melawan. Beberapa pihak bilang korban bullying harus melawan pelakunya, karena hanya dengan cara itulah dia bisa mengalahkan tukang bully. Beberapa situs lain justru bilang kamu jangan melawan karena melawan hanya akan memperkeruh suasana, dan membuat bully tersebut senang karena melihat kamu marah-marah.

Menurut kami, semuanya tergantung situasi masing-masing. Pelajari sejauh mana kamu di-bully dan apakah hal tersebut sudah benar-benar mengganggu kehidupanmu sehari-hari dan membuatmu tertekan atau tidak. Apabila kamu sering digoda oleh teman-teman satu gengmu karena kamu kalah melulu saat main PES, mungkin kamu masih bisa ngomong baik-baik ke temanmu. Atau malah kalau kamu belum merasa terganggu karena hal-hal yang kecil kayak gitu, kamu bisa biarin saja.

Tapi, kalau kamu sudah mengalami bullying yang membuatmu tertekan secara mental, dan kamu bahkan sudah merasa bahwa keamananmu terancam, ada dua pilihan: kamu bisa melawan dengan tindakan dan ucapanmu, atau kamu bisa lapor ke orang dewasa. Khusus pilihan kedua ini, kami bakal jelaskan lebih lanjut setelah ini.

 

Tanyakan pendapat dari orang lain.

Satu hal yang jelas kami sarankan: kamu tidak usah dan tidak perlu menghadapi semua ini sendirian.

Akan sangat membantu jika kamu punya teman mengobrol yang mengerti situasimu, mau mendengarkan curhatmu, dan paling penting, tidak menghakimimu. Kamu perlu teman yang bisa memberi saran, memberi pencerahan serta semangat, dan membantumu mencari solusi.

Kamu bisa mengobrol pada teman baikmu, pada pasanganmu, kepada orang tuamu, kepada kakak atau adik atau sepupumu, dan juga bisa mengobrol pada konselor sebaya yang memang memiliki keahlian di bidang ini.

Bila kamu tidak tahan, laporkan.

Melaporkan bullying sama sekali tidak mudah. Kamu bisa jadi sasaran bullying lebih jauh. Kamu bisa bikin drama di sekolah. Bahkan, kamu bisa dianggap cari gara-gara.

Tapi, satu hal yang perlu kami tekankan: bukan kamu yang memulai semua ini. Kalau kamu sudah menggunakan pendekatan baik-baik, mencoba menyelesaikan masalah sendiri, dan menyampaikan keberatanmu, tapi mereka tetap mem-bully kamu, tidak ada cara lain selain melapor pada pihak yang lebih berwenang.

Kamu bisa berbicara pada guru BK kamu atau kepala sekolahmu. Apabila bullying terjadi di kampus, kamu bisa melaporkan pelaku pada pelindung kegiatan seperti petinggi himpunan atau dosen. Pada situasi seperti ini, kamu perlu memberitahu apa yang terjadi secara jujur dan apa adanya.

Ingat juga: mereka yang mem-bully adalah orang yang lemah.

Orang menjadi tukang bully karena beberapa alasan: entah mereka dulu menjadi korban bullying dan sekarang ingin balas dendam atau karena mereka ingin merasa kuat dan jagoan. Banyak pelaku bullying sebenarnya adalah anak dari keluarga yang tidak harmonis dan lebih banyak lagi yang menjadi korban kekerasan.

Oleh karena itu, jangan mem-bully balik para pelaku. Jika kamu sudah pernah merasakan betapa pahitnya menjadi korban bullying, kamu harus menyudahi kekerasan tersebut. Jangan sampai ada orang lain yang mengalami bullying sepertimu dan jangan sampai ada orang lain yang menjadi pem-bully sepertinya.

 

Masih ada pertanyaan? Ingin tahu lebih lanjut? Kamu bisa tanya di kolom komentar, atau hubungi konselor sebaya yang memang ahli di bidang ini. Temui mereka di Direktori Layanan kami!

 

 

 

Sumber:
anakui.com
ie.reachout.com
stompoutbullying.org

Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.

Keranjang
  • Tidak ada produk di keranjang.