Generation Gender (Gen-G) adalah program lima tahun yang mulai berlangsung di 7 negara yakni Indonesia, Yordania, Libanon, Maroko, Rwanda, Afrika Selatan, dan Uganda. Secara global, program ini berusaha menciptakan masyarakat yang adil gender dan bebas dari kekerasan dan ditujukan bagi kaum muda melalui penjangkauan, lobi dan advokasi serta penguatan kapasitas masyarakat sipil khususnya kepemimpinan perempuan muda dan pelibatan laki-laki muda dalam memajukan keadilan gender.

Tujuan

Visi

Mewujudkan masyarakat Indonesia yang yang inklusif, adil gender, dan bebas dari kekerasan dan yang mendukung orang muda perempuan dan laki-laki.

Target Penerima Manfaat

Orang muda berusia 16 – 30 tahun yang rentan dan beresiko tinggi terhadap kekerasan berbasis gender (KBG), penyintas KBG, dan orang muda yang beresiko menjadi pelaku KBG di masa mendatang.

Fokus Isu

Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) adalah segala bentuk kekerasan yang ditujukan kepada seseorang karena latar belakang jenis kelamin, gender, dan seksualitas orang tersebut. KBGS dapat terjadi di ranah privat, public, dan daring (online). KBGS dapat merugikan secara fisik, seksual, psikologis, dan ekonomi. Siapapun dapat menjadi korban: perempuan, laki-laki, dan kelompok minoritas seksual. Perempuan dan anak perempuan lebih banyak menjadi korban.

Di Indonesia, belum ada data yang secara khusus memperlihatkan angka KBGS secara nasional. Namun demikian, data-data di bawah ini menunjukkan seriusnya persoalan KBGS, seperti:

Koalisi Gen-G

Program Generation Gender atau disingkat Gen-G ingin berkontribusi untuk mencegah dan mengakhiri kekerasan berbasis gender dan seksual ini. Bersama dengan organisasi masyarakat sipil di 7 negara, Koalisi Gen-G Indonesia bercita-cita untuk turut menciptakan

masyarakat adil gender (gender-just) dan bebas kekerasan (violence-free) bersama laki-laki dan perempuan muda dengan segala keragaman mereka. Program ini ingin meningkatkan posisi tawar kaum muda dari semua gender dan kelompok-kelompok yang bisanya dipinggirkan untuk dapat berpartisipasi secara bermakna dalam mewujudkan cita-cita tersebut melalui tiga pilar strategi, yakni:

  1. Menggalang dukungan publik 
  2. Mempengaruhi kebijakan publik 
  3. Memperkuat kelompok-kelompok masyarakat sipil 

Melalui kegiatan-kegiatan kunci seperti literasi hak dan KBGS bagi kaum muda, penyadaran publik, Koalisi Gen-G Indonesia juga bekerja untuk mempengaruhi perubahan kebijakan-kebijakan relevan dengan KGBS bersama kaum muda baik di tingkat nasional maupun lokal, terutama di provinsi Jakarta, Bandung raya, dan Kota Palu.

Koalisi Perempuan Indonesia, LBH APIK Jakarta, Rahima dan Ruang Temu Generasi Sehat – Indonesia ingin mengajak dan bekerjasama dengan beragam kelompok untuk menambah kekuatan dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil gender dan bebas dari kekerasan, terutama KBGS.

Pendekatan

Program Gen-G menggunakan pendekatan multidimensi yang dapat dikelompokkan dalam:

  1. Penjangkauan dan peningkatan kesadaran kaum muda

Penjangkauan dan peningkatan kesadaran kaum muda terutama dengan menggunakan model yang kreatif, ramah, dan mengundang partisipasi kaum muda. Perpaduan berbagai aktivitas kunci pada pendekatan ini meliputi penciptaan karya-karya kreatif bersama dan untuk kaum muda, penguatan kapasitas termasuk bagi kaum muda yang berada di sektor jurnalisme, penelitian, maupun pegiat kemasyarakatan. Penguatan dan pemberian ruang aman bagi kelompok-kelompok ini diharapkan dapat memajukan keterlibatan pemuda dan pemudi yang lebih sadar pada nilai-nilai kesetaraan gender. Media digital dan non-digital akan digunakan baik dalam rupa aktivitas luring maupun daring.

  1. Mempengaruhi perubahan kebijakan

Mempengaruhi perubahan kebijakan nasional, provinsi, kabupaten/ kota, baik yang berupa Undang-undang maupun kebijakan turunan (panduan implementasi) di tingkat institusi pemerintah maupun unit layanan. Kebijakan yang ingin didorong di sini adalah kebijakan yang dapat memberikan perlindungan bagi perempuan dan kelompok-kelompok rentan lain yang selama ini kerap menjadi korban kekerasan berbasis gender dan seksual. Kebijakan untuk melindungi perempuan (dan anak perempuan) dari berbagai hal yang merugikan potensi dan keselamatannya karena perkawinan anak juga akan diperkuat.

  1. Memperkuat organisasi-organisasi masyarakat sipil (OMS)

Memperkuat organisasi-organisasi masyarakat sipil (OMS) terutama kelompok mudanya, agar dapat menjadi OMS yang akuntabel, tangguh, efektif, serta relevan dalam mengupayakan masyarakat yang lebih inklusif dan setara gender dan dalam memberikan layanan/ dukungan bagi perempuan korban.

Nama Mitra